Saat Taylor Swift dan Calvin Harris putus, dunia menyaksikan mereka saling menghapus foto kala masih pacaran. Justin Bieber sempat men-deactivate akun Instagramnya karena salah satu penyebabnya Selena Gomez membela Beliebers di kolom komentar. Sembuh dari putus cinta bukan cuma perkara merobek foto mantan atau membuang surat cinta. Ada drama berkepanjangan yang berpotensi hidup abadi di dunia maya.

Comments
Ivania, 14 tahun, SMP Notre Dame

Sehabis putus cinta, sedih itu wajar. Ditambah lagi dengan banyaknya medsos yang kadang malah bikin kita tambah susah move on. Cara mengungkapkannya lewat medsos dengan pasang lagu di Path dengan lirik yang sedih banget, hal ini jadi perwakilan buat perasaan diri sendiri gitu, deh. Sebenarnya unfollow mantan atau enggak tergantung orangnya, kalau merasa baik ya lakukan saja. Sayangnya, itu enggak ada jaminan bisa benar-benar move on dan malah ada niat buat stalking mantan. Cara ampuh biar move on itu yaitu cari gebetan baru, deh.

2hrReply

Annabelle, 17 tahun, SMA Global Prestasi

"Kalau putus cinta, penting buat orang-orang terdekat kita tahu. Tapi kalau unfollow mantan gitu di medsos kayaknya enggak penting banget, kesannya childish. Justru karena begitu, keinginan buat stalking mantan enggak ada. Satu hari tanpa mikirin tentang mantan itu sudah kemajuan banget!"

3hrReply

Reza Oktovian, YouTubers

"Akun medsos mantan bukan lagi gue unfollow tapi sudah di-block, ha-ha-ha. Sudah enggak peduli lagi tepatnya sih, mending fokusin medsos buat hal-hal yang lebih berguna seperti menunjukkan karya gue."

4hrReply

Add a comment...

Salahkan media sosial yang membuat proses sembuh dari patah hati semakin sulit. Ini terbukti dari polling yang dilakukan oleh cewekbanget.id.

Susahnya move on karena putus cinta di era kehidupan digital menjadi epidemi yang dialami semua orang di seluruh dunia. Di New York, ada sebuah profesi unik dan baru yang khusus untuk menangani permasalahan ini, disebut dengan Social Media Break Up Coordinator. Caroline Sinders, seorang fotografer freelance yang punya pengalaman dalam bidang komputer melihat efek yang luar biasa dari putus cinta di era digital. Pekerjaan ini bertugas untuk membantu orang-orang yang putus cinta dan mengatur media sosial mereka agar enggak terhubung lagi dengan mantan, secara temporer ataupun permanen.

Psikolog remaja, Elizabeth Santosa, M.Psi, yang akrab dipanggil Mbak Lizzie, mengungkapkan pendapatnya tentang media sosial dan remaja pada era digital. Saat ini dengan segala teknologi komunikasi yang cepat dan canggih, kita bisa menerima dan mendapatkan informasi dari mana saja dan kapan saja. Termasuk juga memberikan informasi kepada orang lain. Salah satunya dengan media sosial.

"Semua kegunaan media sosial kembali lagi kepada siapa penggunanya. Buat saya, wajar kalau kita lagi berpacaran dengan seseorang dan ingin share hal tersebut lewat media sosial. Itu bagian dari ekspresi diri tapi akan menjadi tidak wajar ketika kita malahan menggunakan media sosial untuk membohongi diri sendiri,"

(Elizabeth Santosa, M.Psi)

2hrReply

Add a comment...

Membohongi diri sendiri yang dimaksud Mbak Lizzie adalah berusaha menjadikan kehidupan kita sama seperti apa yang kita lihat di media sosial. Padahal realita sesungguhnya tidak selalu seperti itu. Menurut Mbak Lizzie, begitu pula ketika sedang galau dan putus cinta, mengungkapkan kesedihan lewat media sosial adalah wajar. Hal menjadi tidak wajar ketika kita tidak lagi mampu menghargai diri sendiri.

Menjadi seorang public figure, mau tidak mau, kehidupan pribadi juga menjadi sebuah konsumsi media. Terutama tentang hubungan percintaan. Reza Oktovian, vlogger dengan lebih dari sejuta subscribers, pernah memiliki hubungan yang berjalin bertahun-tahun tapi kemudian berakhir dengan kata putus. Tentu saja ini mengundang banyak respon dari para fans Arap, panggilan akrabnya. Arap mengaku, masa-masa tersebut jadi masa tersulit dia. Begitu banyak asumsi dan tanggapan, yang kadang enggak sesuai dengan kenyataan sebenarnya.

Saking dekatnya dengan media sosial, kita menganggap media sosial sebagai tempat curhat kita. Padahal sebenarnya, peran media sosial jauh lebih besar dari itu. Nina, seorang YouTubers yang merupakan salah satu anggota dari Samsolese.id, mengatakan media sosial seharusnya menjadi tempat untuk bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain melalui hal-hal positif dan keceriaan yang dibagikan. Namun enggak bisa dipungkiri, ada saatnya muncul keinginan mem-posting status-status galau meskipun sebenarnya enggak memiliki maksud tertentu.

Cara kita menggunakan media sosial ketika lagi galau enggak hanya dialami oleh cewek saja. Bahkan cowok juga pernah melakukan hal yang sama. David Beatt, seorang creator YouTube, yang sekarang ini punya subscribers lebih dari 100 ribu, mengatakan kalau medsos membawa banyak banget perubahan perilaku kita. Termasuk ketika kita lagi sedih ataupun galau dan pengin mencurahkan isi hati kita melalui medsos.

Tapi sebagai seorang YouTuber yang banyak pula melihat perkembangan media sosial dan tren, menurut David, apapun yang kita bagikan melalui medsos adalah sepenuhnya tanggung jawab kita. Istilahnya, mau share apapun kita harus paham dengan konsekuensinya, termasuk ketika kita membagikan kehidupan pribadi sebagai konsumsi publik.

Namun, yang paling jelas adalah, unfollow atau tetap follow mantan enggak berpengaruh apakah kita sudah move on atau belum. Hal ini dibuktikan dari beberapa responden yang meng-unfollow mantan tapi masih ada keinginan buat mengintip kehidupan mantannya di media sosial.

Seorang psikolog bernama Cooper Lawrence pernah mengeluarkan pernyataan bahwa lamanya kita bisa move on setelah putus cinta. Ada lima hal penting yang mempengaruhi hal tersebut:

Kelima hal ini menjadi tolak ukur apakah kita akan cepat atau malahan enggak move on. Nilai diri ataupun self-esteem yang baik membentuk pribadi kita menjadi lebih kuat. Seperti yang dikatakan oleh psikolog remaja Mbak Lizzie, self-esteem yang baik, bisa dibentuk dari penggunaan media sosial. Jadi, sebaiknya kita menggunakan media sosial sebagai tempat yang tepat untuk move on dari mantan, bukan sebaliknya.

Selama 90 hari ini kita akan dipenuhi dengan kegalauan, kekhawatiran berlebihan, dan rasa ingin kembali kepada mantan. Belum lagi kalau kita menganggap mantan adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti diri kita. Dr. Paul juga mengatakan ketika fase 90 hari ini berakhir, tubuh kita akan terbiasa dengan perubahan situasi setelah putus cinta. Pada tahap ini lah kita bisa benar-benar mengikhlaskan mantan.

Penelitian yang dilakukan seorang psikolog bernama Dr. Tara C. Marshall, Ph.D., dalam jurnalnya yang berjudul Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking.

Dengan melihat postingan baru mantan, membuat mereka masih merasa dekat dengan mantan meski sebenarnya sudah enggak pernah berhubungan lagi. Dr. Tara pun menyimpulkan, masih follow mantan di medsos justru akan membuat kita semakin lama untuk move on.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, psikolog sosial dari Brandeis University, Juliana Breines, Ph.D., mengatakan ada baiknya kita tetap berteman dengan mantan, baik dalam dunia nyata ataupun dunia maya. Karena akan tiba waktunya, di kemudian hari, kita akan bertemu dengan mantan lagi, terlepas dari apapun latar belakangnya. Juliana juga mengatakan lebih mudah merelakan hati untuk berteman dengan mantan daripada menghilangkan rasa kepedulian kepada mantan. Kalau masih berteman di medsos, seenggaknya kita masih membuka kesempatan untuk berteman dengan baik dengan mantan.

Meski pernyataan ini dibantah oleh relationship expert dan penulis Finding Love Again: 6 Simple Steps to a New and Happy Relationship, Terri Orbuch, Ph.D., yang bilang kalau masih berteman dengan mantan di medsos hanya bikin kita sering ‘stalking’ dia. Kecuali, kita sudah merasa biasa saja saat namanya muncul di timeline medsos kita. Enggak ada perasaan yang muncul seperti penasaran, gelisah, ikut senang, sedih, atau cemburu.

Jadi kamu mau pilih yang mana?