Di bawah matahari yang mencorong di langit, Felicia berjalan penuh semangat membawa kamera SLR berkeliling anjungan-anjungan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Sesekali matanya melihat ke anjungan, tapi lebih sering menatap ke kamera sambil berbicara. Nada suaranya yang nyaring kerap terdengar dari kejauhan. Felicia tak ragu tersenyum, tertawa dan bahkan berteriak di depan kamera yang dipegangnya. Felicia punya sesuatu yang tidak dimiliki orang biasa. Keahlian cuek berbicara di depan kamera tanpa peduli tatapan orang-orang di sekitar yang mungkin memperhatikannya. Tapi itulah kehidupan seorang vlogger bernama Fransiska Felicia, pemilik akun Youtube Felozeli yang sudah memiliki lebih dari 98 ribu subscribers.

“Aku memang orangnya ekspresif dan ceria. Tapi kadang ngomong terus, capek juga,” ucap Felicia, yang mengemas dirinya sebagai travel vlogger yang membahas berbagai tempat wisata di Indonesia. Menjelang sore, rambut Felicia mulai berantakan terkena angin bercampur keringat. Kaki pun mulai terasa berat untuk melangkah. Tapi masih banyak anjungan yang harus direkam untuk di-upload di akun YouTube-nya. Sekali perjalanan, seperti keliling TMII ini, akan menjadi dua vlog dengan durasi sekitar 17-20 menit.

Bukan hanya Felicia. Di berbagai belahan dunia, saat ini sedang marak netizen yang menjadi influencer atau akrab juga disebut seleb medsos, selebgram, selebtwit, selebAsk. Mereka yang umumnya berasal dari orang biasa tapi konsisten menulis, memotret, mengedit, merekam dan mengunggah content kreatif di media sosial. Dan hasilnya adalah puluhan ribu hingga jutaan orang mengikuti kisah dan mengidolakan mereka lebih dari seleb yang muncul di TV.

Tapi selain daya tarik kehidupan indah yang ditampilkan seleb medsos, apa yang membuat remaja begitu terhipnotis pada mereka?

Awkarin, dibenci tapi bikin penasaran

Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surtin S.Psi, M.Si mengatakan mengikuti aktivitas para influencer ini bagaikan punya teman baru yang menginspirasi kita. “Dari sudut perkembangan psikolog, remaja ada dalam fase senang mencari teman. Buat mereka penting bisa bergaul dan dapat pengakuan dari teman-temannya dibandingkan harus dekat atau diakui oleh orang tuanya. Hal ini bisa terlihat dari cara dia menggunakan baju (gaya fashion), bagaimana dia bergaul dengan teman-teman sekitarnya termasuk teman-temannya di social media,” jelas psikolog yang akrab dipanggil Mbak Nina ini.

Ketika ada satu social media influencer yang jadi bahan omongan satu kelompok pertemanan otomatis kita ikutan mencari tahu dan akhirnya follow si influencer tersebut. Hasil polling CewekBanget.Id menunjukkan kalau influencer yang banyak di-follow remaja adalah Raditya Dika. Ada juga social media influencer yang remaja enggan follow. Tapi sesekali tetap mereka kunjungi untuk mengobati penasaran, nama Awkarin pun muncul.

Followers makin boros, influencer makin kaya

Social media telah mengubah cara sebuah produk berkomunikasi dengan kita, para konsumen. Karena medsos membuat rekomendasi orang menjadi hal yang penting untuk mempengaruhi kita membeli sesuatu. Malcolm Gladwell dalam bukunya yang berjudul The Tipping Point, menyebut influencer sebagai maven, yaitu orang yang punya banyak pengetahuan tentang topik tertentu. Seberapa besar pengaruh seseorang itu bukan cuma followers yang banyak. Tapi juga didorong oleh keahlian dan kredibilitasnya pada topik tersebut serta hubungan influncer dengan followers-nya. Menurut Prineza Andanarie, seorang social media manager, para social media influencer ini bisa meningkatkan nilai trust yang dimiliki oleh konsumen terhadap sebuah brand. “Soalnya, lewat tangan merekalah pesan yang dimiliki sebuah brand bisa sampai ke audiens kepada sebuah brand,” jelas cewek yang suka disapa Ines ini. Pernyataan ini dikuatkan oleh Nia Training & Communication Assistant Manager brand makeup Korea, Laneige. “Kedekatan sang influencer dengan para followers menjadi poin plus dalam menyampaikan sebuah message agar lebih cepat sampai kepada followers,” jelasnya.

Bukan sembarang endorser

Semakin kita mempercayai dan membeli apa yang mereka tawarkan, semakin besar keuntungan yang diraup seleb medsos. Dengan banyaknya jumlah follower yang dimiliki oleh para influencer, tawaran berbayar untuk meng-endorse produk pun mulai berdatangan. Biasanya tawaran endorsement paling cepat datang dari online shopping. Awkarin pernah membuat heboh karena mengaku bisa mendapatkan Rp 30 juta dalam sebulan dari endorsement berbayar. Nilai yang sama juga diutarakan Rachel Vennya. Beauty vlogger Abel Cantika dan Arsya Nafisa juga termasuk sering mendapat tawaran endorsement dari online shopping. Keduanya mengaku kalau mereka mau menerima tapi dengan banyak pertimbangan. Khususnya kualitas barang dan latar belakang online shopping yang menawarkan endorsement.

Felicia, Arsya dan Abel bilang kalau untuk satu posting di Instagram rata-rata mereka dapat sekitar Rp1 juta. Tapi jumlahnya berbeda lagi kalau ada permintaannya digabung dengan untuk YouTube. Arsya menyebut angka Rp2 juta untuk satu kali posting YouTube ditambah posting Instagram. Tiap influencer punya harga berbeda-beda tergantung dari jumlah follower atau subscriber-nya. Semakin banyak follower seorang influencer bisa membuat harga yang semakin tinggi juga.

Mudahkah jadi seleb medsos?

Abel, Arsya, dan Felicia sepakat kalau jadi seleb medsos enggak seindah foto cantik di Instagram. Butuh komitmen dan kerja keras kalau mau jadi influencer yang dipercaya. Bahkan, Arsya dan Abel harus menggunakan jasa manager untuk membantunya menyortir endorsement, mengingatkan jadwal posting, juga untuk menentukan harga.

Karya yang dihasilkan seleb medsos juga harus bagus dan disukai, bukan hanya oleh para followers, juga oleh klien mereka. Menurut penuturan Felicia, untuk satu foto saja enggak bisa langsung upload. Perlu dikirim dulu ke klien untuk persetujuan. Kalau enggak cocok, ya harus foto ulang sampai sesuai apa yang diinginkan klien.

Tantangannya adalah menyenangkan klien sekaligus menyenangkan followers. Karena para seleb medsos tahu kalau followers juga enggak suka kalau mereka terlalu kelihatan berdagang.

Haters akan selalu ada

Itu kalau dari segi karya dan klien, lalu bagaimana dengan haters? Ada pengagum, ada juga yang benci. Salah satu konsekuensi jadi influencer adalah munculnya haters. Ini bisa lebih makan hati dan bikin down melebihi apa pun! Para haters ini bisa menuliskan komentar negatif tentang hasil karya, bentuk fisik, bahkan sampai kehidupan pribadi mereka.

Jumlah haters ini akan semakin bertambah ketika seorang influencer banyak mengumbar kehidupan pribadinya dan mengundang kontroversi. Yang namanya kontroversi ini memang bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi mendatangkan banyak followers tapi di sisi lain juga menarik banyak haters. Menurut polling CewekBanget.Id, 77,35% remaja mengatakan Karin Novilda pemilik akun @Awkarin yang memiliki 1,2M followers di Instagram ini sebagai influencer yang paling enggak mereka sukai.

Untuk beberapa tahun ke depan fenomena seleb medsos yang mampu memberikan pengaruh dahsyat untuk followers-nya akan terus berlanjut dan semakin banyak. Kalau kita ingin menjadi seleb medsos, pastinya harus memilih secara bijak mau jadi influencer yang seperti apa. Yang punya karya menarik dan menginspirasi atau yang mengumbar kehidupan pribadi dan punya banyak haters.